Kenyamanan di Merak-Bakauheni
11.12.2009

 

Ruang Tunggu BakauheniPelabuhan Merak berbenah. Tingkat keamanan diperketat, kebersihan digalakkan. Tak ada lagi pedagang liar dan para preman. Di masa depan bermimpi menjadi pelabuhan yang memiliki standar internasional
 
Kun Sarwoko spontan meloncat ke sebelah kiri. Pegawai Indonesia Ferry Merak itu coba menghindar serpihan batu yang berhamburan akibat benturan martil seorang kawannya. Sebagian terlontar ke badan sebuah sedan putih yang terparkir tak jauh di dekatnya.”Hati-hati dong, itu mobil masih kepake lho,” kata Kun sambil tersenyum.
 
Sang bos, Tedja Suparna pun hanya bisa ikut tersenyum menyaksikan adegan itu. Sedang tangannya sibuk menunjuk tonjolan besi dan batu yang belum hancur. Beberapa detik kemudian, gergaji besi pun ikut beraksi, memunculkan suara bising yang khas bersanding dengan suara klakson sebuah ferry yang tengah lewat di dermaga Pelabuhan Merak.
 
Hampir setiap minggu, Tedja Suparna tak pernah absen di area bekas terminal bus tersebut. Bersama sebagian anak buahnya, ia selalu memonitor dan bahkan terlibat langsung dalam proyek pembenahan kawasan itu. “Rencananya di sini akan dibangun hotel, area parkir dan tempat belanja. Itu semua akan menjadi bagian dari fasilitas pelabuhan ini, “ ujar Kepala Cabang Indonesia Ferry Merak tersebut.
 
Sejak mengepalai salah satu pelabuhan terpadat di Indonesia itu, Tedja memang seolah tak kenal lelah bergerak. Berbagai lini di Pelabuhan Merak, ia benahi secara bertahap. Untuk internal, lelaki asli Banten itu membuat beberapa terobosan. Diantaranya adalah pengaturan kembali jadwal kedatangan dan pemberangkatan kapal, penambahan tenaga keamanan, alih fungsi tiket dari manual ke elektronik, penambahan fasilitas pelabuhan serta pemeliharaan kapal dan lingkungan pelabuhan.
 
Khusus soal keamanan, Tedja tak mau main-main. Ia mengerahkan sekitar 100 tenaga pengaman. Itu belum ditambah tenaga dari Kesatuan Pelaksana Pengawas Pelabuhan (KP3) yang terdiri dari Satuan Polisi Air dan Udara (Airud), Brigade Mobil (Brimob), Polisi Militer Angkatan Darat (POMAD) dan Polisi Militer Angkatan Laut (POMAL). “ Pengamanan termasuk dilakukan di atas ferry,” kata lelaki yang berkiprah di Indonesia Ferry sejak 1980 itu.
 
Sedang untuk eksternal, Tedja bergerak melakukan pendekatan persuasif ke lingkungan sosial sekitar pelabuhan. Mengapa ke lingkungan sekitar? Bukan rahasia lagi, jika setahun yang lalu Pelabuhan Merak adalah gudang dari berbagai praktek pungutan liar. Situasi itu semakin rumit kala berkelindan dengan tidak teraturnya para pedagang kaki lima yang seenaknya membuat lapak di kawasan operasional pelabuhan. Dan sebagian besar pelaku dari praktek-praktek liar tersebut adalah masyarakat sekitar.
 
Tindakan persuasif yang dimaksud adalah menjalankan pembenahan dan penertiban dengan disertai tawaran solusi. Sebagai contoh, saat menertibkan para pedagang kaki lima, pihak Indonesia Ferry Merak tidak serta merta membiarkan mereka begitu saja. Selain memberikan bantuan 5 mobil toko dan 1 perpustakaan keliling, mereka pun membantu para pedagang kaki lima itu membentuk koperasi sekaligus memberikan modal awalnya.” Kami buatkan dasar hukumnya dan kami datangkan tenaga penyuluh koperasi dari Cilegon agar membuat mereka bisa mandiri,” ujar Tedja.
 
Begitu pula dengan para preman. Tedja mendekati mereka dan menyilakan mereka untuk mencari rezeki di pelabuhan. Syaratnya mereka tidak boleh menganggu kenyamanan para pengguna jasa pelabuhan.”Oke mereka kerja di sini, tapi syaratnya mereka harus ikut aturan main kami,” katanya.
 
Sejak terjadi pembenahan si segala lini tersebut, hasilnya sangat luar biasa. Pungutan liar yang selama ini menjadi “tradisi” di Pelabuhan Merak sirna.”Kriminalitas di Pelabuhan Merak selama setahun ini zero,” kata Tedja. Bisa jadi itu dikarenakan tindakan tegas pihak Indonesia Ferry terhadap keberadaan para preman yang melakukan tindakan merugikan, malah jika ditemukan ada petugas “nakal” dan memungut uang dari pengguna jasa pelabuhan maka tanpa ampun pihak Indonesia Ferry pasti memecatnya.
 
Sebagai catatatan, hampir setiap hari Pelabuhan Merak didatangi oleh 20.000 penglaju. Sedang kendaraan yang dimuat oleh ferry berjumlah 4.000-5.000 per hari. Jumlah tersebut akan mencapai puncak pada setiap lebaran atau natal. Angkanya bisa mencapai 140.000 orang sejak H-3 hingga H+3. Kendaraan yang melintas juga otomatis naik menjadi 12.000 mobil dan 14.000 sepeda motor.” Itu semua dilayani oleh 33 ferry yang kami miliki,” ujar Tedja.
 
Kendati pembenahan sudah menghasilkan buah namun tidak berarti upaya ke arah lebih baik terhenti. Sebagai seorang yang percaya kepada niat baik dan kerja keras, Tedja bertekad menjadikan Pelabuhan Merak sebagai salah satu pelabuhan teraman dan ternyaman di Indonesia. Malah lebih dari itu, ia pun berharap di masa depan Pelabuhan Merak menjadi pelabuhan yang memiliki standar internasional. Sebuah mimpi yang secepatnya harus digapai.
 
Pihak Indonesia Ferry Bakauheni juga berbenah. Upaya itu sudah terlihat dengan adanya pra kondisi seperti renovasi toll gate. Pembangunan toll gate tersebut melingkupi pembuatan 5 jalur pintu masuk kendaraan. Jadi ada upaya penambahan satu jalur dari sebelumnya yang hanya berjumlah 4 jalur.”Pra kondisi juga kami lakukan dengan memasang 41 unit CCTV yang kami sebar di setiap lingkungan pelabuhan,” kata lelaki kelahiran Palembang, 29 Agustus 1960 itu.
 
Terkait dengan diberlakukannya sistem tiket elektrik di Pelabuhan Bakauheni itu, banyak kalangan masyarakat yang menyambut baik rencana tersebut. Salah satu respon positif dimunculkan oleh Ivan Rizal dari Federasi Serikat Pekerja Transportasi Indonesia (FSPTI) Cabang Bakauheni.”Kami sangat mendukung adanya sistem elektrik, karena itu berhubungan dengan masalah peningkatan pelayanan pihak Pelabuhan Bakauheni kepada para pengguna jasanya,” ujar Ketua FSPTI Cabang Bakauheni tersebut.
 
Kendati demikian, pihaknya meminta semua itu diiringi pula upaya Indonesia Ferry menyiapkan sarana dan prasarana lainnya.”Demi kelancaran angkutan penyeberangan di Pelabuhan Bakauheni,” katanya.
 
FSPTI mengharapkan pihak Indonesia Ferry juga memperhitungkan situasi dan kondisi jika para pengurus berada di luar pelabuhan untuk melakukan pengecekan kendaraan. Sedangkan kondisi medan jalan menuju pintu masuk pelabuhan sangat rawan dengan kecelakaan.
 
Ivan berharap dalam pemberlakuan sistem elektrik ini, pihak Indonesia Ferry Bakauheni mengambil contoh dari rekan-rekannya di Indonesia Ferry Merak. Di Pelabuhan Merak sistem tersebut dapat berjalan lancar dan aman. Itu disebabkan pihak Pelabuhan Merak, telah mengantisipasinya dengan baik dan menyediakan terminal di luar pelabuhan.
 
Soal pengamanan juga menjadi perhatian. Selain mengerahakn 54 petugasnya, pihak pelabuhan pun berkoordinasi dengan pihak KPPP setempat. Hasilnya, angka kejahatan menurun drastis. Praktek penjambretan dan pencopetan juga nyaris tak ada lagi.”Paling sering mungkin adalah penyelundupan ganja, dan itu jelas langsung ditangani oleh pihak kepolisian disini,” ujar Zailis Anas, Manajer Operasional Indonesia Ferry Bakauheni.
 
Sama seperti di Pelabuhan Merak, praktek pungutan liar pun sudah enyah dari Pelabuhan Bakauheni. Itu disebabkan selain adanya upaya pembenahan mental pegawai Indonesia Ferry Bakauheni, juga munculnya tekad kuat dari jajaran Indonesia Ferry untuk membersihkan segala bentuk praktek merugikan masyarakat. “ Tekad itu kami langsung komitmenkan secara bersama dalam Pakta Integritas. Dengan disaksikan KPK, kami semua tandatangan,” ujar pegawai Indonesia Ferry yang sudah puluhan tahun bergelut dengan dunia pelabuhan itu.
 
Kini ada sekitar 215 pegawai yang memperkuat operasional Pelabuhan Bakauheni.Itu di luar unsur-unsur yang lain seperti KPPP dan para petugas kebersihan.”Soal penataan dan kebersihan pelabuhan kami menyewa sebuah perusahaan untuk menangani soal ini, biar lebih profesional,” kata Zailis. Makanya wajar jika saat ini, lingkungan di Pelabuhan Bakauheni nyaman, hingga membuat terkesan pengguna jasa pelabuhan.

 

Sumber: Majalah TransMedia, Departemen Perhubungan, Edisi 08/2009