20.12.2008
Jakarta – Memiliki fungsi ganda, sebagai korporat negara sekaligus agen pembangunan pemersatu Indonesia, menjadi pendorong bagi perusahaan angkutan sungai danau dan penyeberangan (ASDP) PT Indonesia Ferry untuk bangkit kembali. Potensi tersebut juga memacu PT Indonesia Ferry untuk memperbaiki diri menuju posisi sebagai industri feri terdepan dan terkemuka di Indonesia yang memiliki kualitas terbaik dalam layanan.
Uang akan datang dengan sendirinya. Investor antre. Hanya saja kita harus berhati-hati jangan sampai setelah investor datang, kita ceroboh mengelolanya,” tandas Direktur Utama PT Indonesia Ferry (Persero) Bambang Soerjanto kepada SH, baru-baru ini.
Bambang menegaskan carut-marut selama ini karena ASDP telah melupakan unsur pelayanan. Sangat disayangkan selama ini para karyawan perusahaan justru merasa bahwa merekalah yang harus dilayani. Padahal dalam sebuah industri jasa seperti ASDP, Customer is the King, pelanggan bagaikan raja yang harus mendapatkan pelayanan istimewa.
”Tapi mind set (pola pikir-red) ini yang kita balik. Untuk itu saya mengecamkan kepada teman-teman di bidang internal ASDP bahwa perusahaan ini eksis, karena adanya pelanggan yang menggunakan jasa kita sehingga seyogianya kita memberikan pelayanan terbaik. Kita balik pola pikir kita, kita mau melayani mereka,” tandasnya.
Bambang menekankan untuk memberikan pelayanan yang terbaik harus didukung peralatan modern, seperti infrastruktur teknologi informasi, prasarana, dan sistem yang harus baik, di mana semua itu mendukung dan bermuara pada pencapaian pelayanan terbaik. Kuncinya adalah mengubah mentalitas atau pola pikir dari yang sebelumnya, dari para pelanggan merasa membutuhkan ASDP menjadi ASDP yang membutuhkan para pelanggannya. ”Sebab kalau tidak ada pengguna jasa, perusahaan kita akan habis, tidak akan mendapatkan uang dan bisa tutup nantinya,” katanya.
Untuk mendukung itu, dirinya telah menerapkan reward and punishment (penghargaan dan sanksi) dalam mengatur kinerja para karyawan, di mana pegawai yang memiliki kinerja baik diberi apresiasi, sedangkan pegawai yang kurang baik diingatkan secara lisan dahulu baru secara tertulis dengan surat peringatan (SP) 1,2,3. ”Kalau secara persuasif tidak bisa, ya mohon maaf, sebab perusahaan juga ada aturannya. Tetapi perlu dilihat jenis kesalahannya dan penyebabnya apa karena kita juga tidak boleh semena-mena,” ujar Bambang.
Mewujudkan industri feri terdepan dalam waktu dekat, menurut Bambang, akan direalisasikan dengan membuat sarana pelabuhan sebagus mungkin dan semodern mungkin. Hal itu dimulai dari kerapian, kebersihan, dan efisisensi operasional, termasuk pengoperasian kapal yang tepat jadwal, tepat waktu, serta sarana pendukung lainnya. Jangan ada kapal yang berhenti lama (mengetem). Ia mencontohkan, di ruang tunggu penumpang sudah disiapkan tempat duduk yang nyaman, tempat duduk yang mewah menggunakan stainless steel, TV, dan LCD.
Bambang meyakini sebagai perusahaan modern Indonesia Ferry harus selalu berinovasi agar produk jasa pelayaran yang dijual menjadi lebih baik. ”Produk kita ini kan jasa pelayaran, kalau kita bicara industri secara keseluruhan (coorporate) kita tidak harus rencana A dan B, kita tidak boleh hanya memfokuskan di satu bisnis inti, misalnya industri penyeberangan saja,” ujarnya.
Indonesia Ferry harus selalu prepare for the world, oleh sebab itu perlu dikembangkan pelayanan yang menunjang dan terkait dengan bisnis inti. Tidak menutup kemungkinan Indonesia Ferry akan mulai masuk ke sektor pelayaran.
”Mungkin, belum tentu ke sana. Kita akan kaji lagi, sebab kita tidak mau itu terpisah dari bisnis inti kita. Memang, kami sudah mendapat persetujuan anggaran dasar kami tambahkan dengan memasukkan industri pelayaran,” ungkapnya.
Bambang memastikan kendala menuju revitalisasi Indonesia Ferry hampir tidak ada. Tetapi, diakuinya akan ada pihak yang akan terganggu.
Bambang menargetkan pada tahun 2009 telah ada perubahan di Indonesia Ferry. Namun, tidak bisa terlepas dari kendala di lapangan, bahkan kalau bisa lebih cepat, tetapi setidaknya tidak akan lebih dari lima tahun. ”Kita akan sulap Bakaheuni menjadi denyut nadi modern, ada hotel bintang, rumah sakit internasional, semua fasilitas yang menunjang kenyamanan, atau simbol modernitas suatu kota. Untuk itu kita tidak bisa sendiri, banyak pihak yang akan terlibat,” katanya.
Percontohan
Indonesia Ferry memulai pembenahan dari Pelabuhan Merak sebagai proyek percontohan, khususnya dalam hal kebersihan dan kerapian. Pada pintu masuk II pengguna jasa akan dibuat menjadi terpesona dan bingung seolah memasuki bandara, bukan terminal pelabuhan feri.
Pelabuhan Merak adalah kunci atau tolok ukur dari lancar tidaknya angkutan penyeberangan, sebab sejarah mencatat sejak lama Sumatera-Jawa adalah jembatan ekonomi. Apabila Merak lancar walaupun ada sedikit gangguan seperti melimpahnya kendaraan di Surabaya tidak terlalu sensitif, tetapi begitu di Merak ada sedikit ketidakteraturan dan ketidaknyamanan dampaknya akan luar biasa. ”Oleh karena Merak menjadi sorotan semua pihak, kami merasa tertantang dan terpanggil menjadikannya lebih baik dari sekarang,” tegas Bambang.
Logo dan moto Indonesia Ferry ”We bridge the nation” merupakan kebanggaan dalam menyatukan Tanah Air. Tetapi Bambang bertekad harus mewujudkan kebanggaan itu dalam tindakan nyata, dan hal itu yang akan segera dilakukan di Pelabuhan Merak dengan dukungan berbagai pihak, terutama Pemda Banten, di mana Merak berada di Provinsi Banten.
Indonesia Ferry akan menjadikan Pelabuhan Merak sebagai etalase industri feri di Indonesia, di mana tamu dari luar negeri atau pejabat tinggi yang ingin melihat seperti apa industri feri di Indonesia, mereka cukup datang ke Merak. Bambang menegaskan pihaknya ingin membuat Merak sebagai proyek percontohan modern terminal feri.
”Kalau kita lihat industri feri di Jepang dan Korea itu tertata baik, kenapa mereka bisa kita tidak, ini yang menjadi tantangan kita bersama,” tandasnya.
Belajar dari pengalaman sebelumnya, kunci utama dari ketertiban, kerapian, dan kenyamanan di Merak hanya ada tiga faktor, yaitu kecukupan jumlah kapal, jumlah dermaga, serta sistem manajemen lalu lintas yang baik, yang dipatuhi oleh semua pihak. Faktor lainnya adalah kenyamanan pendukung. Bambang merencanakan akan membangun citra, apa yang dilakukan di Merak juga dilakukan di Bakaheuni.
Namun, Bambang menyadari hal tersebut tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat, tetapi dirinya optimistis jika setiap hari ”mesin perang” Indonesia Ferry digulirkan, setapak demi setapak wujud Pelabuhan Merak dapat diubah.
Investor Antri
Bambang optimistis ASDP tidak akan mengalami kesulitan dana dalam mewujudkan pembangunan Pelabuhan Merak sebagai proyek percontohan untuk menjadikannya pelabuhan modern bertaraf internasional. Namun, lanjutnya, perusahaan yang dipimpinnya harus berjalan dengan baik sehingga dapat dipastikan semua pihak yang terkait dalam industri pelayaran akan merasakan keuntungan.
”Investor yang berminat itu banyak, jadi kita tidak usah khawatir punya mimpi dan tidak bisa diwujudkan. Mulai dari investor pribadi, hot fund, banking, itu minat investasinya tinggi. Apalagi dengan situasi seperti sekarang itu, mereka merasa sangat berisiko jika menanam investasi di bidang finansial akhirnya mereka melakukan investasi di sektor riil yang benar-benar menguntungkan. Contohnya, industri feri di mana ini adalah cashflow company,” tandasnya.
Rencana investasi dana bisa bersumber dari Indonesia Ferry dan pemerintah (APBN).
Untuk merevitaliasasi pelabuhan memerlukan biaya hingga triliunan namun Indonesia Ferry akan melihat dari anggaran modalnya, yang memberikan shareholder value-nya yang paling tinggi, itu yang akan diprioritaskan. ”Kami inginnya pada tahun 2009, kami sudah mulai bergerak membangun Dermaga V. Kami saat ini tengah menyesuaikan rencana induk yang ada dengan target kami. Kami akan menggunakan tanah milik kami, eks terminal bus lama seluas 76 hektare. Tinggal konsepnya saja, akan dibuat apa,” tutur Bambang.
oleh Effatha Tamburian
DEPARTEMEN PERHUBUNGAN
PERUM DAMRI
PT. PELNI
PT. KERETA API (Persero)

