Transportasi Publik Saat Lebaran
09.09.2009

Oleh: Rhenald Kasali, Ketua Program MM UI

 Setiap Lebaran tiba, pikiran kita selalu waswas. Apakah sanak dan keluarga kita dapat menikmati perjalanan mudik dengan nyaman dan manusiawi? Atau jangan-jangan akan terulang lagi suasana yang buruk, kembali ke suasana 20 tahun lalu: berdesak-desakan, tidak aman, dan sungguh tidak manusiawi.

 Bus, kereta api, dan kendaraan pribadi selalu sama saja. Kita berdesak-desakan, macet, dan lama di jalan. Tetapi ada angin segar dari Kantor Kementerian Negara BUMN yang beberapa tahun belakangan mulai menempatkan profesional dalam jajaran direksi sektor transportasi publik. Belajar dari Garuda Indonesia yang manajemennya berhasil meraih kejayaan pesat di tangan trio bankir Robby Djohan-A Gani-Emirsyah Satar; kini PT Kereta Api dimasinisi Ignasius Jonan; dan PT Indonesia Ferry oleh Bambang Soerjanto.
 
Akankah mereka mencetak kejayaan yang berarti? Akankah Lebaran ini kita saksikan pelayanan transportasi publik yang lebih baik? Atau mereka akan mengalami ujian berat dari pasar dan teman-teman mereka? Pertanyaan-pertanyaan itu akan terjawab 2-3 pekan ke depan.
 
Sarat Kepentingan
 
Mengubah perusahaan-perusahaan transportasi publik pada dasarnya terbilang tidak mudah. Selain karena menyangkut keamanan dan regulasi dengan tuntutan keahlian teknis tinggi, sektor ini sarat dengan aneka kepentingan.
 
Setiap kali memasuki stasiun, pelabuhan, terminal, atau bandara, dengan cepat aroma kepentingan dapat ditangkap. Petugas yang mempermainkan manifest dan tiket tampak dimana-mana. Yang satu asyik mencari untung dengan kelompok besarnya, yang lain mengutak-atik spareparts, catering, ruang tunggu, keamanan, transportasi pendukung, percaloan, dan seterusnya. Selain itu, alat-alat kontrol sering rusak atau sengaja dirusak, sehingga mempermudah orang-orang tertentu ”bermain”. Entah itu rusak atau sengaja dirusak, tak jelas betul.
 
Belum lagi regulator dan pesaing yang punya kepentingan lain. Oknum-oknum pejabat yang ”dekat” dengan perusahaan-perusahaan pesaing dengan mudah menimbulkan distorsi yang justru mempersulit ruang gerak BUMN. Selain itu, bukan hal sulit untuk mengalahkan BUMN transportasi. Keterlambatan bisa diatur, sehingga penumpang beralih ke armada lain.
 
Menjelang Lebaran, semua kepentingan itu mencuat ke atas permukaan. Pada saat itu uang-uang besar ada di pelabuhan, terminal, stasiun, dan bandara. Kalau semua ini didiamkan, maka efek negatif akan kembali dirasakan penumpang. Maka penting bagi semua pihak menahan diri dan mengamankan kepentingan publik.
 
Sense of Togetherness
 
Faktor penting untuk membangun kekuatan itu ada pada kesatuan tindak. Itulah tugas penting setiap direksi BUMN. Kalau tidak ada sense of togetherness, masing-masing akan berjalan sendiri-sendiri dan itu akan tampak pada lemahnya pelayanan.
 
Saya bayangkan di atas kereta api orang berebut masuk dari jendela, masing-masing membawa barang-barang besar. AC kereta nyala-mati-penumpang berebut kursi. Kereta datang dan tiba terlambant. Bagian ticketing dengan dapur, kereta api dan masinis bekerja sendiri-sendiri. Hal yang lebih kompleks ada di kapal-kapal penyeberangan yang penumpangnya terdiri atas individu, bus, truk-truk pengangkut logistik, mobil penumpang (sedan) dan sepeda motor. Semua orang berdesak-desakan ingin masuk lebih dulu karena antrean sebelum sampai ke pelabuhan sudah terlalu panjang. Mereka juga dalam keadaan letih, ngantuk, lapar, dan haus.
 
Antrean yang panjang dan tegang sudah pasti sarat dengan masalah keamanan dan sabotase. Satu saja titik tidak bekerja efektif akan berakibat negatif pada simpul-simpul lain. Apalagi alat-alat transportasi publik itu dimasa lalu tidak terawat dengan baik. Karena sifatnya sangat massal, perhatian pada pelayanan belum diperhatikan. Kalau masing-masing unit di pelabuhan penyeberangan tidak kompak, dengan cepat antrean dapat memanjang.
 
Namun, kondisi itu tengah berubah, kesadaran kaum profesional untuk memperbaiki pelayanan transportasi publik perlu kita beri dukungan. Kalau mereka bekerja dengan sungguh-sungguh dan mampu menyatukan berbagai kepentingan, Indonesia sebagai negara kesatuan akan lebih terwujud. Bayangkan, rata-rata jarak antarpulau di Indonesia relatif cukup dekat, di bawah 50 mil. Dan ini berarti potensi lahirnya sebuah usaha transportasi dan dok kapal yang besar.
 
Pentingnya Manajemen Perubahan
 
Hampir dapat dipastikan kaum profesional yang terbiasa bergerak cepat, decisive, service oriented, dan profit making, akan membuat gerak mereka yang terbiasa bergerak lamban, saling melindungi, saling membagi uang siluman, kurang memperhatikan pelayanan dan sebagainya.
 
Robby Djohan dulu disambut dengan demo oleh pegawai-pegawai Garuda. Direksi-direksi lain juga memusuhi, dianggap tidak mengerti aspek-aspek teknis dan seterusnya. Sementara itu, kompetensi karyawan dengan cepat dipetakan kaum profesional, dan mereka yang tidak berda di tempat yang tepat akan menghadapi perubahan.
 
Manajemen perubahan dalam industri jasa transportasi publik akan menjadi ujian semua pihak. Sebagian orang akan menyangkal dan marah-marah, sebagian lagi akan membentuk koalisi menentang perubahan. Namun semua itu hanyalah bentuk ekspresi dari rasa kurang nyaman dan kurang pasti terhadap masa depan.
 

 

Tak ada salahnya semua pihak kembali merenungi bahwa tak ada yang abadi di dunia ini, selain perubahan itu sendiri. Dan seperti pesan yang disampaikan Charles Darwin,”Bukan yang terkuat yang mampu bertahan, melainkan yang paling adaptif,” Orang adaptif akan bersikap terbuka dan melayani, bukan bersifat reaktif dogmatis. Selamat menikmati pelayanan yang lebih baik. Selamat menjalani perubahan (*) 

Sumber: Harian Seputar Indonesia, 3 September 2009