Kapal Feri Hidupkan Perekonomian Kepulauan
13.07.2009

 

Kapal Ferry Tenggiri
Kapal feri KMP Tenggiri yang menghubungkan Galala-Poka di Ambon, Maluku, selalu dipadati penumpang dan kendaraan, Jumat (10/7). Kapal ini bisa mempersingkat perjalanan darat yang harus memutari teluk. Keberadaan kapal feri di Maluku sangat penting karena meningkatkan lalu lintas barang dan mendorong roda perekonomian daerah terpencil yang tidak terjangkau kapal PT Pelni. Di Maluku baru ada 14 kapal feri dan tahun ini akan ditambah 3 unit.
 
Ambon, Kompas - Kapal-kapal feri yang mampu mengangkut barang dan penumpang sangat penting untuk menghidupkan perekonomian wilayah kepulauan, seperti Maluku, Maluku Utara, dan Sulawesi Tenggara. Namun, sampai kini jumlah kapal feri sangat sedikit dibandingkan luas wilayah kepulauan.
 
Data yang dihimpun Jumat (10/7) menunjukkan, di Maluku, misalnya, baru ada 14 kapal feri yang menghubungkan Ambon- Buru, Ambon-Haruku-Saparua- Nusalaut-Seram, Tual-Aru, dan Saumlaki-Tual-Aru. Padahal, wilayah laut itu memiliki 599 pulau. Keberadaan kapal-kapal feri itu menghidupkan perekonomian wilayah-wilayah terpencil yang tidak terjangkau oleh kapal milik PT Pelni.
 
Benny Gaspersz, Kepala Dinas Perhubungan Maluku, menyatakan, kapal feri sangat penting dalam mengangkut hasil bumi masyarakat untuk dipasarkan ke pusat perdagangan di pulau lain, misalnya Kota Tual sangat bergantung pada pasokan hasil bumi dari Pulau Larat.
 
Di pelabuhan Galala, feri rute Ambon-Pulau Buru menjadi pendukung distribusi barang dan penumpang. Kapal feri mengangkut barang kebutuhan pokok dan elektronik menuju Buru. Adapun hasil bumi dari Buru diangkut ke Ambon.
 
Di Maluku Utara, kapal feri menghubungkan Ternate-Sofifi (Halmahera Tengah), Ternate- Sidangoli (Halmahera Barat).
 
”Kapal feri meningkatkan arus barang dan jasa karena mampu mengangkut barang lebih banyak dibandingkan kapal perintis. Kami berharap program 1.000 kapal feri terealisasi,” katanya.
 
Gaspersz mengatakan, jumlah kapal feri akan ditambah 3 unit tahun ini untuk Maluku Tenggara, Kepulauan Aru, dan Maluku Barat Daya. Wilayah tenggara Maluku membutuhkan banyak kapal feri karena terdiri atas pulau-pulau kecil. Kapal feri di Maluku didukung 9 kapal perintis. Kapal-kapal perintis ini menghubungkan pusat-pusat perekonomian, seperti Ambon, Tual, dan Saumlaki dengan pulau-pulau terpencil.
 
Menurut Gaspersz, sektor swasta juga ikut mengembangkan transportasi laut, tetapi masih sebatas angkutan penumpang. Perusahaan swasta menggunakan kapal-kapal cepat. Persebarannya masih terbatas di daerah-daerah yang mobilitas penduduknya tinggi, seperti Ambon, Seram, dan Buru. Rute kapal cepat yang paling ramai adalah Ambon-Namlea (P Buru), Tulehu (Ambon)-Amahai (Seram).
 
MZ Amirul Tamim, Wali Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, juga menilai, kapal feri menjadi tumpuan roda ekonomi masyarakat. Hasil bumi dari Pulau Kabaena, Muna, dan Sulawesi diangkut ke Bau-Bau di Pulau Buton dengan menggunakan feri. Hasil bumi selanjutnya dikirim menggunakan kapal kargo ke wilayah timur dan barat Indonesia.
 
”Keberadaan kapal feri dan ro-ro sangat penting bagi wilayah kepulauan karena meningkatkan arus barang sehingga roda perekonomian meningkat. Kami juga terus mendorong sektor swasta untuk meramaikan transportasi laut,” kata Amirul. (ANG)