Bukan 1.000 Candi, tetapi 1.000 Kapal Feri...
09.07.2009

Kapal Ferry

Kapal Feri Laut Teduh I bersiap berlabuh di Pelabuhan Bakauheni, Lampung, 16 Juni lalu. PT Indonesia Ferry (Persero) yang kini terus merevitalisasi pelabuhan penyeberangan, antara lain, dengan tiket elektronik, juga mengambil ancang-ancang untuk memperbanyak armada kapal feri.

 

 

JAKARTA, KOMPAS - Ketika tantangan membangun 1.000 unit feri dilontarkan, banyak pihak tersentak. Sayangnya, lebih banyak reaksi negatif. Padahal, sebagai negara kepulauan, mimpi apalagi yang lebih layak daripada hilir-mudiknya ribuan feri antarpulau?
 
Kekecewaan pun muncul saat mendatangi perairan Ternate dan Pulau Tidore tahun 2007. Mengapa? Sebab, lalu lintas kapal sepi. Mestinya, anak pulau-pulau itu mewarisi kemegahan armada kora-kora yang ditulis di buku sejarah.
 
Perairan Ternate menggambarkan, bangsa ini telah berpaling dari laut. Padahal, angkutan terefisien adalah kapal sebab minim daya gesek lambung dengan laut, dibanding roda dengan aspal.
 
Tak mengherankan jika kita belum merajai laut kita sendiri, apalagi mengembangkan layar hingga laut seberang. Hal sederhana adalah ukuran kapal. Jangankan kapal kargo, ukuran kapal feri saja ibarat liliput dibanding feri di negara lain.
 
Agustus 2008, perusahaan feri P&O Ferries memesan dua feri untuk rute Dover (Inggris) ke Calais (Perancis). Tiap feri mengangkut 2.000 penumpang berbobot mati 49.000 ton, atau empat kali lebih besar daripada feri BSP III milik PT Atosim Lampung Pelayaran.
 
Tak hanya kalah besar, tetapi feri kita juga kalah cepat. Feri di Eropa, misalnya, rata-rata berkecepatan 20-30 knot, atau dua kali lebih cepat dari feri Indonesia. Artinya, feri-feri mereka menembus Merak-Bakauheni dalam satu jam, sedangkan feri-feri kita dalam dua jam.
 
Kapal Jatra III, yang dinaiki Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 16 Juni 2009 dari Bakauheni menuju Merak, ”hanya” melaju 17,5 knot. Jauh lebih lambat dibanding kecepatan ”Shinas”, feri jenis catamaran yang dibangun Sultan Oman yang berkecepatan 52 knot (96 kilometer per jam).
 
Dari perbandingan itu, terlihat ada banyak kekurangan pada transportasi penyeberangan.
Oleh karena itu, tantangan membangun 1.000 kapal feri—jangan diartikan segera memesan 1.000 feri—yang dilontarkan PT Indonesia Ferry (Persero) harus disambut positif. ”Seluruhnya feri,” ditegaskan Direktur Utama Indonesia Ferry Bambang Soerjanto.
 
”Saya sependapat dengan keinginan itu. Dan, jangan dilihat dari angka atau jumlah kapal, tetapi lebih pada niat untuk membangun feri,” kata Wiratno, Direktur Lalu Lintas Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan Departemen Perhubungan.
 
Kata Wiratno, karena uang negara terbatas, diharapkan ada partisipasi badan usaha milik negara dan pengusaha swasta. Bukan hanya membuat baru, melainkan juga meremajakan feri yang sudah ada.
 
Ketika hakikat penyeberangan adalah ”menyambung” jalan yang terputus pada selat dan sungai, idealnya dibangun feri roll-on/roll-off dan landing craft tank. Feri tersebut hanya mengangkut orang dan kendaraan, tidak mengangkut kargo.
 
Data Ditjen Perhubungan Darat (2007), ada 196 kapal penyeberangan, di mana 175 kapal feri, 10 kapal LCT, dan 11 kapal penumpang. Sebanyak 112 kapal milik swasta, 80 kapal milik PT Indonesia Ferry, 2 kapal pemda, dan 2 kapal kerja sama operasi.
 
Ada lebih dari 200 lintas di seluruh Indonesia meskipun baru 115 lintas dilayari, di mana 81 lintas tarifnya disubsidi.
 
Industri kapal
”Idle capacity industri kapal mencapai 60 persen. Kami dukung bila ada niat membangun kapal feri,” kata Soerjono, Direktur Industri Maritim dan Jasa Keteknikan Departemen Perindustrian.
Ditegaskan Soerjono, bila hanya membangun 50 feri per tahun, galangan kapal dalam negeri pasti mampu. Yang dibutuhkan adalah dukungan perbankan. Bila selama ini lebih untuk impor kapal, patutnya juga bisa mendanai pembuatan.
 
Ada kabar, Indonesia Ferry berkongsi dengan Samsung C&T dan 21st Century Shipbuilding Co dari Korea Selatan. ”Itu kan pengadaan komponen. Feri dibangun di sini,” ujar Soerjono.
Diharapkan, feri segera dibangun sebanyak mungkin untuk meningkatkan intensitas penyeberangan sehingga sinergi ekonomi antarpulau bertumbuh.
 
Andai dulu Loro Jonggrang tak meminta 1.000 candi, tetapi 1.000 kapal feri, tentu bangsa ini sudah jadi bangsa maritim. Tapi, apa boleh buat, saat ini kita harus bekerja keras.

 

 

(HARYO DAMARDONO)