Laba Indonesia Ferry Melonjak
02.05.2009

JAKARTA, KOMPAS - Laba bersih PT Indonesia Ferry, penyelenggara jasa angkutan dan pelabuhan penyeberangan, meningkat, yakni dari Rp 54,81 miliar pada tahun 2007 menjadi Rp 103,26 miliar pada tahun 2008.
 
Adapun pendapatan badan usaha milik negara tersebut naik dari Rp 642 miliar pada tahun 2007 menjadi Rp 805 miliar pada 2008. Laba operasi dari 9,5 persen menjadi 20 persen.
”Tujuan utama kami bukan laba, tetapi pelayanan penyeberangan lebih baik bagi publik. Namun, pelayanan yang baik ternyata mendorong laba lebih tinggi karena masyarakat tertarik menggunakan feri,” kata Direktur Utama PT Indonesia Ferry Bambang Soerjanto, Jumat (1/5) di Jakarta.
 
Dia menyatakan, pembenahan pelabuhan dan pelayaran akan membuat penyeberangan lebih baik. Pembenahan pelabuhan itu adalah dengan mempersiapkan pelabuhan dan terminal. Adapun pembenahan pelayaran adalah dengan mempersiapkan armada kapal, keterampilan awak kapal, sistem operasi, dan ketepatan jam operasi, dengan mengatur ulang lokasi dan jadwal sandar.
Menurut Bambang, modernisasi pelabuhan akan meningkatkan kualitas pelayanan kepada publik. Oleh karena itu, minggu depan, di Pelabuhan Bakauheni akan dipasang pelayanan tiket elektronik. ”Setelah berhasil di Pelabuhan Merak, minggu depan, tiket elektronik dipasang di Bakauheni,” ujar Bambang.
 
Potensi kebocoran
Penerapan tiket elektronik akan menutup 30 persen potensi kebocoran pendapatan. Dia menjelaskan, berkat teknologi informatika, dia bisa mengetahui pendapatan Pelabuhan Merak, Jumat (1/5) pukul 08.00-10.00, mencapai Rp 600 juta.
”Bukan hanya pendapatan pelabuhan yang naik, tapi juga pendapatan operator kapal karena tak lagi dibohongi pegawainya,” ujar Bambang.
 
Modernisasi juga akan dilakukan di Pelabuhan Lembar (Lombok)-Padang Bai (Bali), Pelabuhan Gilimanuk (Bali)-Ketapang (Jawa Timur).
 
Selain modernisasi, Indonesia Ferry dan Departemen Perhubungan juga membangun dermaga 5 Pelabuhan Merak senilai Rp 80 miliar. ”Targetnya akhir 2009, penyeberangan sabuk selatan hingga Nusa Tenggara menikmati pembaruan pelabuhan,” kata Bambang.
 
Modernisasi juga dilakukan dengan memasang kamera pemantau dan pemantau pergerakan kapal. Hal itu dilakukan agar pengguna jasa penyeberangan merasa aman.
 
Menurut Sigit Prasetyo, dari Masyarakat Transportasi Indonesia, angkutan penyeberangan penting untuk pergerakan barang dan jasa. ”Oleh karena itu, supaya baik, harus tegas standar pelayanan minimumnya,” ujarnya. (RYO)